Friendship: It's Not Always A Candy Cane, and That's Still Okay
Dearie, aku punya rekomendasi film musikal yang ada di YouTube nih! K-12 merupakan sebuah mahakarya dari penyanyi asal Amerika yang juga merupakan salah satu kontestan ajang pencarian bakat The Voice: third season, Melanie Martinez. Potongan film yang kali ini akan kita sorot yaitu mengenai 'persahabatan' klub cewek-cewek populer di sekolah yang diketahui bernama Kelly's Posse. Perfect friendship, begitulah orang-orang di sekolah tersebut memandang Kelly dan sahabat-sahabatnya. Mereka berpakaian senada, bahkan rambut mereka memiliki warna dan style yang serasi satu sama lain, persahabatan mereka terlihat sangat kompak dan sempurna! Tapi tahukah dearie, bahwa perasaan akan selamanya harmonis, selalu setuju, dan seia sekata dapat memunculkan ilusi kesempurnaan pada sebuah persahabatan? Bukan berarti, tidak pernah berselisih paham artinya persahabatan kamu tidak cukup dekat ya! Mungkin saja, kamu dan sahabatmu sudah sama-sama mengerti bagaimana problem solving yang paling cocok diantara kalian. Ilusi kesempurnaan pada persahabatan mungkin saja akan membuatmu berpikir, "apabila kami bertengkar, maka persahabatan kami tidak beres". Padahal, perbedaan pendapat dalam hubungan pertemanan maupun persahabatan adalah baik adanya. Kamu dan sahabatmu akan mampu untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik yang ada dengan mencari jalan keluar terbaik yang telah disepakati bersama, hal inilah yang memungkinkan persahabatan kalian akan semakin dekat.
Seorang pakar bernama Parker (2011) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa sebuah hubungan yang sangat dekat dan tinggi konflik tidak bersifat destruktif, hal ini didukung oleh peneliti lain yang menyatakan bahwa terlibat dalam perdebatan yang intens merupakan bagian dari hal-hal biasa di antara hubungan pertemanan. Pada tahun 1994, seorang ahli dalam bidangnya, psikologi, bernama Gottman menjelaskan mengenai hubungan volatile yang bersifat stabil, erat dan mengikat sekaligus terlibat yang tumbuh subur dalam konflik dan diimbangi dengan afeksi, kehangatan, dan tawa. Disebutkan bahwa, hubungan seperti ini terhubung secara emosional serta penuh semangat, walaupun terlibat dalam pertengkaran hebat namun selalu ada saat-saat menyenangkan berbaikan setelahnya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hubungan persahabatan tidak serta-merta harus conflicts free (tidak ada konflik sama sekali), karena hadirnya konflik mampu memupuk kedekatan atau intimasi dalam sebuah hubungan khususnya hubungan persahabatan. Selain itu, juga memungkinkan kedua belah pihak saling memahami perspektif masing-masing, menemukan problem solving sehingga hal tersebut mampu memberikan manusia kesempatan untuk belajar mengenai pasangannya, sahabatnya, maupun orang lain yang terlibat dalam kehidupan sosialnya bahkan untuk dirinya sendiri dan apa yang dianggap penting dalam hubungan persahabatannya.
Resources:
Parker, R. J. (2011). Closeness and conflict in children's friendships: relations with friendship stability, adjustment, and sociometric status. Thesis. Canada: University of Ottawa.
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/platonic-love/202108/are-you-friendship-perfectionist
Written by: Olivia Herlie Syafira

Comments
Post a Comment