Road to Psychology of Fashion
Dalam kurun waktu seminggu, beberapa liputan fashion show 2021 berkali-kali muncul di timelineku. Dari aku yang not into fashion, sampai dibikin penasaran karena cuplikan desain yang dijadikan thumbnail berhasil mencuri perhatianku. Diantaranya, The Harlem Fashion Week 2021, New York Fashion Week 2021 dan VOGUE Runway yang sudah menyematkan 'Fall 2021 Ready-To-Wear' sampai the upcoming 'Seasons 2022 Ready-To-Wear' di halaman resminya. Salah satu koleksiyang terkait, datang dari 'Moncler 2 1952, Fall 2021 Ready-To-Wear' yang menyisipkan fashion trend tahun 1952. Meskipun terjadi peperangan di Korea pada tahun tersebut, penduduk Amerika menganggap diri mereka hidup makmur dengan rata-rata penghasilan sebesar $3,400 per-tahun. Couture trend yang happening di tahun kemakmuran ini antara lain, mismatched pakaian dan warna-warna yang dikenakan. Menurut majalah Quick edisi 24 September 1952, mantel dan jaket bertekstur tinggi (dan terkadang motif yang ramai) terjual dengan pesat bersamaan dengan dress atau rok berwarna solid. Penggunaan warna-warna solid sepertinya tidak pernah out of style ya, karena pada tahun ini, seorang desainer ternama Christian Siriano juga menyertai warna solid dalam koleksi terbarunya Spring 2022 Ready-To-Wear. Terinspirasi dari foto-foto kenangan masa lalunya, serta warna jingga yang diambil sebagai bukti penghormatan atas neneknya yang berdarah Italia, siluet ramping tahun 1930-an yang juga erat dengan jas berkerah asimetris serta gaun yang di mash-up dengan marabou-trimmed scarf turut dipadukan dalam rancangannya untuk musim semi tahun mendatang. Ngomongin tentang fashion ternyata seru juga ya! Dearie mau tahu gak sih apa keterkaitannya dunia fashion dengan psikologi? Et voila! Yuk bahas bareng-bareng!
Pastinya, bila ditelusuk, psikologi selalu berkaitan erat dengan manusia, dan manusia itu sendiri memiliki kebutuhan dasar yang salah satunya adalah pakaian. Selain berfungsi sebagai proteksi diri, menghangatkan, dan melindungi kulit manusia dari paparan lingkungan, pakaian juga memiliki fungsi yang mungkin hampir luput dari kesadaran kita, yaitu status, kesantunan, serta estetika. Selain itu, apa yang kita kenakan memungkin kita untuk dikenali sebagai bagian dari sebuah kelompok spesifik. Pakaian juga dapat menunjukkan posisi seseorang dalam kelompok, sebagai suatu bentuk ekspresi keunikan dan kreativitas seseorang, serta identifikasi seseorang. Identifikasi itu sendiri merupakan identitas yang melekat pada seseorang, meliputi fakta akan apa dan siapa juga karakteristik seseorang tersebut. Dalam studi yang dilakukan oleh Akdemir tahun 2018, Freud menyatakan proses identifikasi merupakan proses psikodinamis yang terjadi ketika identitas dimulai dengan melibatkan orang lain. Individu menginginkan untuk merasa dirinya secara psikologis menjadi bagian dari sebuah kelompok, dengan kata lain, identifikasi ini mengarah pada identitas sosial. Selain itu, pakaian dapat menjadi sarana komunikasi non-verbal mengenai norma-norma yang dianut dan diterima oleh individu dan kelompoknya. Orang-orang Mesir terdahulu menilai perhiasan dan pakaian yang terbuat dari bahan superior menandakan status superior seseorang. Sebaliknya, semakin sedikit perhiasan yang dikenakan maka semakin dipandang inferior posisi seseorang. Menilik Toga yang merupakan cerminan definitif orang-orang Roma kuno, Toga merupakan cerminan sosial yang penting yaitu menunjukkan kekuatan, kedudukan, dan tempat sosial bagi kelas-kelas teratas penduduk Roma karena orang asing, tahanan, dan budak hanya memakai tunik sederhana, Toga dilarang keras dipakai oleh mereka. Selain itu, Toga juga memiliki warna-warna tertentu yang bersifat simbolis seperti Toga Praetexa, Toga bagi orang penting, berwarna putih dengan tepi berwarna ungu. Warna ungu merupakan warna yang sulit untuk didapatkan pada saat itu. Bahkan pada zaman sekarang, warna ungu menyiratkan keanggunan atau keelokan sedangkan warna hitam sebagian besar digunakan sebagai pertanda berkabung.
Wah, ternyata fashion juga terkait dengan psikologis manusia ya! Baik dari warna, apa yang dipakai, bentuk pakaian dan pastinya masih banyak lagi. Pakaian juga menjadi lambang yang mencerminkan siapa orang tersebut atau posisi orang tersebut pada suatu lapisan sosial. Kalau kamu tahu yang lain, yuk sharing Dearie!
Writer: Olivia Herlie Syafira
References:
https://www.thepeoplehistory.com/1952.html
http://www.oldmagazinearticles.com/1952-Fall_Fashion-pdf
https://www.vogue.com/fashion-shows/spring-2022-ready-to-wear/christian-siriano
Akdemir, N. (2018). Visible expression of social identity: the clothing and fashion. Journal of Social Sciences, 17 (4), 1389-1397.

Comments
Post a Comment