Tips Menjadi Pendengar yang Baik
Dalam sebuah hubungan baik pada konteks romantis, keluarga, pertemanan maupun konteks lainnya, sharing atau berbagi dengan satu sama lain merupakan hal yang lumrah terjadi. Adanya kepercayaan satu sama lain memungkinkan seseorang merasa nyaman untuk membagikan ceritanya, baik itu hal-hal yang menyenangkan ataupun keluh kesah. Sebagai orang yang menjadi pendengar bagi rekan, keluarga, atau pasangan yang sedang mengungkapkan ceritanya, tentunya kita ingin berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Langkah-langkah dalam menjadi pendengar yang baik itu sebenarnya ada loh, Dearie! Kita sebut saja Mendengarkan Aktif. Teknik ini memungkinkan kedua belah pihak melakukan komunikasi antar keduanya secara lebih efektif. Dengan mempelajari teknik ini, akan memungkinkan kita untuk berusaha memahami apa yang dibicarakan dan maksud apa yang hendak diutarakan oleh orang lain. Ketika seseorang bercerita kepada kita nih, dan kita berusaha dengan maksimal memahami cerita serta memahami maksud dari cerita tersebut, secara tidak langsung kita memberi sinyal kepada pencerita bahwa kita 'menerima' perasaan pencerita. Acceptance ini sangat penting bagi pencerita untuk merasa nyaman, leluasa, tanpa takut dihakimi dalam menyampaikan cerita serta ungkapan mengenai perasaannya terhadap peristiwa tersebut. Pencerita juga akan lebih leluasa untuk menggali perasaan serta pemikirannya yang memungkinkan pencerita memahami dirinya sendiri, serta memahami masalahnya sendiri dengan diberikan kesempatan untuk membicarakannya secara mendalam. Yuk, simak baik-baik teknik Mendengarkan Aktif berikut ini, Dearie!
Langkah pertama yaitu Mengulangi Pemikiran Pembicara. Ketika kita mengulang kembali apa yang telah disampaikan pencerita, hal tersebut akan menunjukkan bahwa kita memiliki minat terhadap cerita yang disampaikan. Cobalah untuk mengulang kembali cerita yang telah disampaikan dengan kalimat sendiri, untuk mengonfirmasi kembali pemahaman yang kita tangkap dari apa yang telah disampaikan oleh pencerita. Jika kurang tepat, pencerita akan mengoreksi pernyataan yang telah kita sampaikan. Ini juga menjadi sebuah kesempatan bagi pencerita dalam menggali dan mengembangkan isi pikiran dan perasaannya.
Berikutnya, cobalah untuk Menyatakan Perasaan Pencerita berdasarkan pengertian kita. Mungkin, selama bercerita, narasumber tidak secara gamblang menyatakan perasaannya sehingga perasaan tersebut muncul secara tersirat. Kita bisa mencoba untuk mengatakan, "Pasti kamu marah ya karena sikap dia seperti itu" "Rasanya sedih kalau diperlakukan seperti itu" dan lain sebagainya, sehingga ini juga dapat membantu pencerita dalam memahami perasaannya dengan lebih objektif. Objektivitas dibutuhkan saat perasaan kita sedang campur aduk, agar lebih objektif memahami serta berupaya untuk menanggapinya secara lebih efektif.
Teknik selanjutnya yaitu Mengajukan Pertanyaan pada pencerita. Mungkin, kita perlu menyamakan pemahaman kita dengan pencerita terkati peristiwa yang diceritakan, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan dalam upaya memberikan dorongan dan dukungan bagi pembicara dalam mengutarakan pikiran dan perasaan mereka. Usahakan pertanyaan tersebut tetap berfokus pada masalah yang dibicarakan, untuk menegaskan minat serta perhatian kita sebagai pendengar kepada pencerita.
Langkah sederhana yang telah diuraikan merupakan sebuah awal yang baik dalam upaya kita menjadi Good Listener terhadap lawan bicara kita. Tentunya, mungkin membutuhkan waktu dalam berlatih menjadi pendengar yang baik. Usaha sekecil apapun akan memiliki dampak yang lebih baik pula dari sebelumnya. Mulai sekarang, coba terapkan yuk Dearie! :)
Writer : Olivia Herlie Syafira
References: DeVito, J. A. (2013). Komunikasi antarpribadi. Tangerang: KARISMA Publishing Group.


Comments
Post a Comment